Press "Enter" to skip to content

Puisi karya Abu Ma’mur MF dab Agustav Triono di Lumbung Puisi Jilid IV

Abu Ma’mur MF
Selepas Samadhi
jangankan mendekat apalagi mengelusmu
sedang menatapmu saja mereka jejap
ada sejuta runcing bisa pada tiap lembar bulu
di sekujur tubuhmu
sehelai saja mengena kulit manusia
adalah pertanda kelenjar petaka yang nyeri
:entah suatu kutukan atau justru kesaktian
tapi apalah arti kesaktian jika menghadirkan kesakitan
bagi liyan dan pada akhirnya merupa bencana?
perlahan kau mulai menapak jalan kesunyian
dengan selaksa bulumu kaurajut ruang kontemplasi
menekuri hari-hari, menafsirkan kasunyatan, memasuki
jagat suwung
anasir cahaya spiritual menyelusup dalam dirimu
menerobos kegelapan, menghangsukan kealpaan
segala ego dan kerakusan menyublim ke lelangit
kesadaran
usai dua purnama kau bermetamorfosa
ada gurat lukisan pencerahan di sepasang sayapmu
kelepak tarianmu tampak kirana di antara rerimbun
bunga-bunga
kau mengecup dan mencerup saripati cinta pada nektar mawar
manusia-manusia terpana menatap pesonamu,
 “aku ingin jadi
kupu-kupu. aku ingin jadi
kupu-kupu”
Loteng Literasi, 2016
Abu Ma’mur MF
Fragmen
Enigmatis
Berkalikali seorang bocah berhati puisi ditikam sebilah
pertanyaan, “Apakah ayahku kini menjadi seorang penyihir?“
Semenjak ayahnya bekerja di gedung tua, gelap, dan banyak
sawang, sang ayah kerap manglirupa: anggora, tupai, keledai.
Kadang pula merupa celeng, curut, kera, harimau, serigala.
Betapa rakus ia memangsa apa saja.
Apa saja!
batu bata kayu semen aspal besi bangkai bahkan manusia
Tak kuasa bocah berhati puisi itu terus berlama-lama menahan
luka-luka yang mengental di dadanya, juga bau anyir di
rumahnya
Ada kobar denyar rasa sakit dalam bilik hatinya dalam ruang
pikirannya dalam ceruk
jiwanya
Bocah berhati puisi minggat, berhari-hari ia berlari. Sampai
suatu hari
ia tiba di kolong jembatan
Sebuah kota
tempat para jelata mengutuk nasib
Seekor serigala tengah mencabik sekujur tubuh
perempuan kumal
Si bocah nyaris pingsan saat serigala menoleh
ke arahnya lalu
mengonggong pelan, “Anakku!”
Ketanggungan-Brebes,
2015
                            
Agustav Triono
Kambing
Hitam
Kambing hitam berkandang anyaman bambu bukan gedung mewah
apalagi istana
Kambing hitam tiap pagi 
diajak tuannya ke padang rumput bermain riang gembira
Kambing hitam merawat cempe hitam anaknya dengan welas asih
tak berharap balas budi
Kambing hitam disenja hampir hitam digiring sang tuan ke
kandang sunyi
Kambing hitam dibisiki tuan tentang namanya yang disebut
manusiamanusia di berita televisi
Kambing hitam yang sebenar kambing itu dicomot namanya tak
permisi oleh manusiamanusia bingung kata nirjiwa
Kambing hitam mengembik tetap suka dikandang meski sedikit
rumput hijau
Kambing hitam kembali mendengar namanya disebut berulang oleh
tetangga kandang berbulu abuabu
Kambing hitam melongok ke tetangga yang kini juga acuh tak
mau berbagi rumput hijau
Kambing hitam geram, dari dalam rumah tuan televisi
bernyanyi menyebut nama diri
Kambing hitam merusak pintu kandang masuk ke rumah menanduk
televisi yang bernyanyi haha hihi
Kambing hitam menyepak kursi empuk tuan, sang tuan tertawa
bahagia kambingnya sehat kuat bugar bisa dijual mahal
Kambing hitam mengutuk manusiamanusia di berita televisi itu
lalu memanggilnya sebagai manusia
manusia bribil tai !
2016
Agustav Triono
Ikan Kelana
Aku ikan kelana lahir dari rahim mata air
Asal lereng gunung penuh rimbun firman-Mu
Berenang menelisik setiap alur sungai kehidupan
Mencium bau pesawahan, ladang-ladang, dan kebun kebun tua
Yang menguarkan aroma dambaku
Berloncatan coba hindari batubatu kali kesumat
Yang halangi tujuku
Dengan insang iman aku nafasi arus air kautsar
Kadang berhenti lalu mengalir lagi
Aku ikan kelana terus berenang
Kini siripku terasa berat
Sampah kota selimuti sisikku
Lempung dosa bertahap mengental
 (jangan aduk tanah
lempung agar bening airku)
Sungai belukar misteri dan aku adalah sang pencari
Pengelanaanku sampai di muara segala harap
Tatap nanarku memandang luas ke pantai
Ekorku mengibat cepat nuju laut asaku
 (namun kadang karang
menghalang)
Kau laut aku ikan kelana
Biarkan aku mencebur pada samuderaMu
2005
            

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *