Press "Enter" to skip to content

Puisi Karya Amrin Moha , Anggoro Suprapto , Anjrah Lelono Broto di Lumbung Puisi Jilid IV

Amrin Moha
Menanyakan
Hari Libur
Setiap bangun tidur. Setiap menuju perjalanan pulang. Aku
tak hentinya-hentinya mentap wajah buram dari deretan wajah kota. Bunga-bunga
layu dipinggiran jendela. Siulan tetangga yang burungnya meninggal. Haus
dibiarkan mematung sendiri. Menunggu kerelaan hujan yang tak kunjung mengguyur
majikan.
Setiap mentap jam didinding rumah. Penglihatan dan perasaan
ku seperti dirayapi usia. Tanpa suara burung dan bunga-bunga. Bukan
wangi-wangian para pengguna jalan. Justru olokkan anjing penjaga kantoran di
pinggir kota.
Aku rindu tidur lebih lama dari kelelawar. Saat orang-orang
kota pergi dengan kepala lama mereka. Aku menunggu dengan curhatan dibalik
puggung yang jadi tempat semut-semut berdiskusi dengan kutu. Busuk dan penuh
nama-nama yang dirahasiakan.
Andai saja, kau memiliki sikap yang lebih lembut dari bulu
anak ayam, kau tak akan melewati jembatan sebagai batas penghubung. Karena
setiap kali aku melihat wajah kota yang mengerikan itu. Penuh dengan tanda
tanya. Keinganan dan kebebasan yang diharapkan, sebagai simbol ketidak warasan.
Cirebon, 03 Agustus 2016

Amrin Moha
Kodok Mati
di Ladang Sendiri
Aku tidak terbiasa menulis sajak binatang yang menumpang
hidup dibalik jasnya. Yang mejanya dipenuhi makanan dari hajatan warga. Yang
minumanya bekas dari keringat ketiak pekerja lahan negara.
Di manapun, binatang yang mengangkang dibalik lahan negara,
tidak hanya tikus dan kucing. Kodokpun hidup di dalamnya. Bahkan kodok bisa
lebih cerdik dalam hal kabur dari kejaran pemangsanya. Lebih licin dari belut
sawah yang dikejar orang-orangan sawah.
Kodok yang suka dikejar itu, sekarang sudah mulai menua
dimakan usia. Sudah kelebihan makanan dari daratan dan lahan tempat
mengumpatnya dibalik bilik perairan pesawahan.
Bahkan jaman sekarang kodok lebih sering ngoceh saat malam.
Saat semua orang-orang sibuk manafkahi isterinya. Tidak banyak yang tahu apa
kalimatnya. Yang jelas, kodok mulai gerah dengan lahan yang mulai menyempit.
Kanan kiri dinding dendam. Dihimpit.
Kodok mulai ngoceh lagi. Sukar bernafas, katanya. Masih
sadar. Kodok sudah mulai berwasiat. Sembunyi dibalik pemakaman yang digali
sendiri. Kodok mati kekenyangan di ladang sendiri. Busuk dan dibiarkan
mendengar namanya disebut-sebut.
Cirebon, 04 Agustus 2016

Anggoro Suprapto
Kawanan
Burung di Atas Kabel
Hari baru berangkat pagi, ketika
Sekawanan burung bertengger
Di atas kabel listrik, berjajar
Memanjang seperti pasukan
Kota masih sunyi, udara tak berbunyi
Lengang menyibak kenangan
Tak ada detak nadi, waktu pun mati
Oi, geliat metropolitan sepi sekali
Bagai kawasan tak berpenghuni
Cakrawala masih sendiri
Ritual pagi kawanan burung dimulai
Di atas kabel bertengger memanjang
Saling berdesakan hangatkan badan
Meminum embun yang menetes diam
Seekor anak burung muda bertanya pada mama di sebelahnya.
“Mama, kenapa kita bertengger di kabel listrik berbahaya? Kenapa tidak
bertengger di rimbunnya pepohonan mangga?” Semua burung yang mendengar
menghela nafas dalam. Alam berkelap-kelip kelam. Semua menunggu jawaban. Mama
burung belum menjawab hanya memejam. Angin pagi mulai bertiup sejuk. Mengusap
bulu-bulu burung yang merunduk.
Matahari pun mulai bersinar. Mengirimkan kehangatan alam
yang berpendar. Saat itulah, Ketua kawanan burung menegakkan dada mengangkat
kepala. “Wahai saudara-saudara burung semuanya saja,” katanya. Mereka
terdiam. Anak burung juga diam. Semua seksama mendengarkan. Ingin dengan jelas
mendapatkan wejangan. Sadar, sekarang dalam pusaran alam kasunyatan.
“Sebentar lagi siang, kita semua akan terbang ke jauh ke selatan. Mencari
kota baru yang ramah lingkungan,” kata Ketua pelan.
Maka berkisahlah Ketua Burung
Suaranya Parau mendengung
“Ketahuilah hai bangsa burung,” tuturnya
Kota-kota besar sekarang pada mati
Tak ada tempat berpijak lagi
Pohon-pohon hijau digantikan
Jutaan kabel-kabel bertebaran
Hutan kota disulap jadi hutan beton
Menjulang tinggi tak ada tawon
Kita tak bisa minum air sungai
Penuh limbah pabrik, sampah, dan
Plastik yang tak bisa diurai
Kita tak bisa mematuk cacing tanah
Plesteran keras melapisi lemah
Udara menyesakkan nafas
Cerobong pabrik dan jutaan kenalpot
Dari kendaraan terus mengepot
Tak ada yang bisa diharapkan
Dari kota yang mati hati nurani
Kata Ketua mengakhiri
Ketika hari makin siang, kawanan burung berarak terbang, ke
selatan. Mungkin perjalanan panjang nan jauh. Jauh sekali. Mencari kota impian,
bukan kota mati. Kota yang penuh pepohonan, dekat sawah dan hutan. Kota ramah
lingkungan.
Semarang, 16 Agustus
2016.
Anjrah Lelono Broto
Harimau
yang Hilang Pandang Nyalang, Aum
telah
hilang pandang nyalang itu. tak tahu
hilang di
mana? dihilangkan siapa? lalu,
apa kita
harus menangis menderu dalam debar deburan debu?
empu
pandang nyalang itu pun juga kehilangan aum. tak tahu
hilang di
mana? dihilangkan siapa? lalu,
apa kita
harus menangis menderu dalam debar deburan debu?
jeruji-jeruji
bisu itu yang tahu, hilang di mana, dihilangkan siapa
pandang
nyalang dan aum itu. sayang, meski mereka
bukan batu
namun mereka musykil mengeja aksara
tentang
nestapa kepergian pandang nyalang dan aum yang di rimba
begitu
perkasa. tak pernah ada yang menangis, tak pernah ada yang
membincang,
hingga ajal datang pada empu pandang nyalang
dan aum
itu karena kelaparan.
Yang
bersinggasana di perutnya, bukan daging segar
kaya
vitamin dan kaya mineral mineral,
justru
daun-daun, kulit kacang, dan sampah bungkus nasi,
tersisa di
perut yang kini membangkai
terlalu
banyak kehilangan pada harimau itu, ahai
di kebun
binatang
Mojokerto, 2016

Anjrah Lelono Broto:

Tikus-Tikus
Candi Tikus
— sebuah sajak pamflet
andaikata
tiba-tiba terlukis wajah tikus di cermin kamarmu,
apakah kau
malu? apakah kau malu? apakah kau malu?
andaikata
tiba-tiba ternyata
tikus
adalah moyang dalam silsilah keluargamu,
apakah kau
mampu jujur mengaku? kau? kau?
jikalau
lalu bertahtalah seorang guru di dalam kelas,
yang
bagimu menjewer telinga anakmu tanpa belas,
apakah kau
juga melapor ke kantor polisi lekas-lekas?
sementara,
wajah di profil sosmed anakmu, bapak-ibu,
adalah
wajah seekor tikus. 
tanpa
kutanya pada rumput yang bergoyang
tentu
kalian bantah dengan suara gundah
kalau
tikuslah dirimu, tikuslah leluhurmu, tikuslah anak-cucumu
karena
kita, manusia-manusia di dunia
hanyalah
pemuja kautaman
namun
bukan pelakon-pelakonnya di panggung kehidupan
kita
pandai menuturkan tapi jauh api dari panggang
k’tika
jejak kita buat di jejalanan kehidupan
tapi kamu
bukan aku
kamu,
kamu, kamu, kamu, kamu, kalian bukanlah aku
karena aku
menancapkan pisau di dada kemunafikan
dengan
jantan membuat proklamasi pengakuan
bahwa aku
adalah binatang berotak-berpikiran
aku adalah
tikus yang mengerat habis kambium-kambium bumi
aku adalah
tikus yang menyetubuhi undang-undang demi kursi
aku adalah
tikus yang mengangkat agama semata panji-panji
mengapa
aku begini

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *