Press "Enter" to skip to content

Lumbung Puisi Jilid IV

Ersa Sasmita
Badak
Dengan hanya mencium aromamu,
Aku tahu keberadaanmu
Pendengaranku pun cukup tajam,
Meski kau mengendap-ngendap mendekatiku
diam-diam
Kulitku yang tebal sering dijadikan perumpamaan
bagi manusia yang tak punya rasa malu dan
hidup dari belas kasihan. Tapi, bagiku pelindung tubuh
yang menjagaku dari musuh
Aku tak suka api.
Padamkanlah begitu selesai
Memasak air untuk kopi
Agar aku tak datang menyeruduk
Dan membuatmu ambruk
Makananku semata tumbuhan
Yang menjaga temperatur tubuhku tetap aman
Dalam cuaca panas, aku pilih berkubang di
kubangan berlumpur, agar terhindar dari dehidrasi
Dan sengatan terik matahari.
Musuhku satu-satunya hanyalah manusia,
Yang membunuh dan mengambil cula
Milikku, untuk digunakan dalam  ramuan cina.
2016
Ersa Sasmita
Gajah
Pantaslah kau disembah,
Karena konon banyak memberi berkah
Kau disebut vighnaharta, yang menghalau rintangan dan
kesukaran hidup manusia, dengan wujud patung Ganesha,
yang merupakan putera Dewi Parwati dan Dewa Siwa.
Tapi, kau juga lambang keberanian dan kebijaksanaan,
Dimana pemujamu menggantungkan harapan.
Kau dikenal memiliki tajam pendengaran,
Dapat berkomunikasi dengan kerabatmu hanya dari getaran
Tanah, meski lima kilometer jauhnya. Pun memiliki memori
Kuat, dalam mengingat jalur migrasi.
Meski berkulit tebal, kau ternyata tak mampu berkeringat,
Sehingga tak tahan dalam cuaca terik menyengat.
Saat udara panas,
telinga lebarmu kau fungsikan sebagai kipas.
Kedua gadingmu ternyata adalah gigi
Yang akan tumbuh kembali
Setiap kali patah. Gading yang dicari manusia
Karena mahal harganya.
Kau pun dipakai sebagai perumpamaan
Bagi manusia yang suka mencari-cari
Kesalahan Orang lain, tapi lupa melihat kesalahan
Diri sendiri.
2016

 

Ersa Sasmita
Cheetah
Kau pernah dijadikan model iklan kendaraan
Sebagai simbol hewan yang paling unggul dalam kecepatan.
Kecepatan yang dimungkinkan oleh lubang hidung
Lebar dan paru-paru besar, sehingga bisa menghirup oksigen
Lebih banyak. Dengan tubuh kecil, ringan dan aerodinamis,
Kau mencapai tujuh meter dalam sekali lompatan.
Tapi kau hanya sanggup berlari setengah menit saja
Sebelum betul-betul kehabisan tenaga.
Karena itu, kau memilih lebih dekat dulu sebelum menyergap
Mangsa, agar mereka tidak dalam keadaan siap.
Ekormu berfungsi kemudi yang mengatur belokan
Saat melakukan gerakan melengkung di tikungan.
Meski hewan buas, kau tak bisa mengaum nyaring 
seperti singa. Sebab suaramu lebih mirip kucing
yang mendengkur
Saat tidur.
2016
El Fadjeri
Tangisan
Badak Bercula Satu
Ada rahasiaTuhan yang berkeliaran di dalam fauna Indonesia
Sebuah rahasia yang menjanjikan kedewasaan etika
Pertanggungjawaban para khalifah di bumi
Untuk menjaga setiap inci rejeki dan keindahan yang Tuhan
beri
Menjaga amanah bukan merusak alam
Mendapatkan keuntungan tidak dengan cara kejam
Bertahan hidup jangan menjadika nmahluk lain jadi korban
Cinta Tuhan berarti juga cinta seluruh hewan
Ujung Kulon menangis darah
Ketika banyak Badak di buru oleh para pendosa
Cukong-cukong keji dan nista
Manfaatkan cula untuk kepentingan semata
Badak adalah kekayaan dunia
Hewan yang sudah tidak banyak lagi keturunannya
Menjaganya seperti menjaga keperawanan wanita
Membunuhnya berarti meperkosa gadis belia
Hewan langka adalah perhiasan nusantara
Biarkan mereka berdansa dengan habitatnya
Kita menjaga dalam prilaku bangsa yang berbudaya
Hingga harum nama Indonesia tercium oleh pecinta fauna dunia
Badak bercula satu,
Menangis di pangkuan Ibu pertiwi
Kita mengiba dengan sejuta aksi
Jakarta, 11082016
Eno El Fadjeri
Capitan
Kepiting Kalijodo
HingarbingarberitatentangKalijodo
Terdengarmengguncangsukmadiriku yang bodoh
Taktahuapa yang membuatkeramaianituberisaktangis
Luluhlantahperkampungandengancara yang tragis
Pemerintahmenertibkandengancarapaksa
Sebelahkiridankananhuniantakmampumenguraitawa
Kupu-kupumalamberkeliarantaktaahuarahtujuan
Mencarituan-tuan yang relamemberirumahkehidupan
Akuberjelagahmelewatimalam yang suram
DitengahkemesraanPamongPrajadan Tuan hartawan
Sedangberbisikmencarijalanteranginvestasi
Antarapembentukantamankotadanapartemen yang tinggi
Disekitar sana aku melihat banyak luka
Ada pelacur yang berdiam murung di pinggiran kali
Ada Ibu tua renta menangis di runtuhan bangunan rumahnya
Ada preman yang marah-marah tak jelas kepada aparat
Aku menyebut mereka sebagai kepiting Kalijodo
Kalijodo bukan surga lautan
Tapi di dalamnya terdapat banyak kenikmatan
Kepiting terkadang memberikan kuliner kelezaran
Tapi terkadang capitannya bisa membahayakan kehidupan
Ingatlah!
Siapapun yang terusik
Pasti akan menggigit balik
Tak ada dendam yang padam sempurna
Tak ada capitan yang tak meninggalkan luka
Bila sudah tiba waktunya
Air mata akan berbalas dengan air mata.
Jakarta, 13082016
Eri Sofratmin
Serak
Parau Para Ungko
Segerombolan
para Ungko
di hutan
Tanah Ketayo
ranah kubu
rimba raya
berjingrak-jingrak
memekik
menggendong
anaknya, berpindah-pindah dari batang kedahan, dari dahan kepucuk
menghindari
ujung peluru balansa
Serak
parau para Ungko
mengamuk,
memekik
sahut
bersahut jantan dan betina
memuntahkan
amarah
karna
hutan rimba raya ditebang
hingga
diratakan Buldozer
atas
perintah manusia yang tak punya hati
Serak
parau para Ungko
memekakkan
gendang telingaku
Oooiii
Sibelangblang Harimauku
penunggu
hutan jagad raya
di tanah
kubu rimba raya
cengkramkan
kuku dan taringmu
terkam,
terkam,
terkam
jantung orang yang mengganggu hutan rimba rayamu
robek
jantungnya dan campakkan
kerimbun
pohon jati
Oooiii
Kuau siburung rimbaku
datang,
datanglah
cakarkan
kuku-kuku Tajammu
kejantung
orang yang merusak hutan rimbaku
Oooiii
Kuau siburung rimbaku
gunggunglah
tubuhku
antar
kesarang Garuda Bhinekaku
biar
penguasa tahu bahwa hutan berserta habitatnya harus di jaga dan di lindungi
Serak
parau para Ungko
tak
henti-hentinya memekik.
Kota Lintas , 11 Agustus
2016.

 Eri
Syofratmin
Kunang
–kunang
Kenang
kukenang
ketika
masa kecilku
kesetianku
menanti
hadirnya
kemilau kunang-kunang
bertebar
bak lampu pijar
di
hamparan pematang sawah
di
semak-semak tebing sungaiku
aku
terbuai dalam cahaya terangmu
Namun,
itu dulu
dipijar kenangan
Kunang-kunang
Kini,
cahayamu
tak kutemui lagi di langit malam
yang
kulihat kini
hanya,
cahaya
lampu-lampu jalan
Kunang-kunang
ku kenangkenang
Kota Lintas , 11 Agustus
2016.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *