Press "Enter" to skip to content

Resensi Memo yang menghentak, merontak, memuja, menyanjung, lalu menghujat dan marah!

Resensi

Memo yang menghentak, merontak, memuja, menyanjung, lalu menghujat dan marah!
Barangkali Anda ingin tahu perkembangan sastra dewasa ini Antologi Memo
untuk Presiden adalah jawabannya. Kita bisa melihat corak puisi
nuntakhir dari buku setebal 476 Halaman ini. Tentu saja beraneka pola.
Namun demikian warna gaya penyair kita telah berubah sejak sebelum
reformasi negeri ini. Mungkin pula gambaran reformasi gaya penyair
Indonesia. Kalian bisa menilai puisi-puisi dari 196 penyair
indonesia. Dari yang sudah ubanan hingga yang bau kencur namun telah
menjadi resep sambal dari rasa penyair-penyair Indonesia. Memo bukanlah
memo biasa namun suguhan yang enak dibaca bolak-balik. Terserah mana
karya dan pujangga yang Anda pilih , 196 Penyair negeri. Jika memo ini
sampai Istana kenapa kita tidak turut serta membaca. Agaknya Sosiawan Leak
dan Rini Tri Puspohardini sang editor buku ini tidak membuat alur isi
dari masing-masing karya penyair yang begitu banyak ini, sengaja
susunannya dengan menggunakan abjad depan nama penyairnya. Jadilah
lembar lembar itu kadang menghentak, merontak, memuja, menyanjung, lalu
menghujat dan marah!. Wah Anda pasti ketinggalan jika tak baca buku ini.
Judul : Memo untuk Presiden (Antologi Puisi)
Penulis: 196 Penyair Indonesia
Kurator : Leak Sosiawan
Penerbit : Forum sastra Surakarta
Cetakan 1 : Oktober 2014
ISBN : 978-602-777-802-3

( RgBagus Warsono 18-11-2014)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *