Press "Enter" to skip to content

Shinta Miranda, Rona Perempuan

: Komako – Tetirahnya Seorang Geisha

Menuruni bukit kecil berselimut salju

Ketika temaram petang memudar putihnya

Bagai kaki burung bangau yang berjalan ringan

Dan menyimpan sayapnya di pinggang

Beriringan dengan jenjang bukit

Ia tinggalkan semakin jauh melandai ke rerumputan

Terurai rambut hitamnya lepas

Dari gelungan kecil menjadi jarum-jarum menisik angin tipis

Tak pernah pipih tulang menunjang raga

Yang dibalut sutera bunga sakura

Oleh hasrat yang merekat sepanjang masa belia

Seperti dawai kuat shamisen

Yang dipetik jemari lentik sambil senandungkan nyanyi

Menepis dingin berlapis

Mengiringi malam akhir perjamuan langit

Dengan rembulan di matanya yang sipit

18 Juni 2010

Di Sisi Jalan Sawojajar

: Miriam

Berdiri di sisi jalan Sawojajar tanpa trotoar lagi

Pohon kenari telah tua dan tinggal sedikit lagi

Masih ada wangi jeruk limau dari dalam rumahmu

Seperti dulu ketika makan siang memanggil-manggil

Rumah sewaan jaman belanda yang cuma paviliun itu

Kini telah megah jadi penginapan tempat istirah

Bersatu dengan rumah besar tempat bekas panglima

Di masa penumpasan Kartosuwiryo jaman Soekarno

Berdiri di sisi jalan Sawojajar yang tidak sejuk lagi

Asap kendaraan berkumpul jadi polusi yang pekat

Dan curah hujan tak pernah mampu membuyar asap

Membuat matamu melihat diriku yang tak pernah lenyap

Kerikil-kerikil kecil di halaman rumah telah berganti aspal

Menjadi tempat parkir mobil pengunjung kota hujan

Disambut wangi roti yang baru saja keluar dari pembakaran

Di toko roti jaman dulu yang tetap masih berdiri hingga kini

Aroma jeruk limau lotek ibu, aroma roti tanpa pengawet

Aroma dirimu bapak guru kekasihku dulu tetap lekat

Ketika menggenggam jemariku di mesin tik buatan jepang

Aku tetap menyimpannya di dalam detak jantungku

08 Juli 2010

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *