Press "Enter" to skip to content

Tri Budhi Sastrio, Status Hamba Gaya Penguasa



Tidakkah judul ini sebenarnya potret diri kita semua?
Status mungkin hanya hamba tapi sikap serta gaya?
Bah … bisa jauh lebih dahsyat dari sang penguasa.
Yang benar-benar penguasa tentu tak berpura-pura
Kala bersikap dan bergaya layaknya yang berkuasa,
Karena dia memang benar pemegang otoritas kuasa.
Tentukan ini putuskan itu, karena memang tugasnya.
Tapi yang jelas-jelas bibir deklarasikan status hamba
Namun dalam dunia nyata, entah memang berdusta,
Entah lupa, atau entah bagaimana, lagak serta gaya
Dapat jauh lebih hebat tegak menjulang ke angkasa
Pamerkan otoritas tunjukkan kuasa, ini lho si akunya.
Yang masih ragu dan tak percaya, ini jika benar ada,
Seharusnya segera saja balik kembali status semula.
Hamba ya hamba, tugasnya melayani, taat dan setia.
Mengapa? Karena bahkan nabi mulia utusan surga,
Seperti dicatat muridNya, dengan tepat berwibawa
Sampaikan sebuah cerita hebat khas utusan surga,
Yang sangat jelas, gamblang serta nyata, sehingga
Si bebal pun sulit sekali untuk tidak bisa mencerna.
Suatu ketika kala tiba masanya sang raja penguasa
Memanggil seorang penghutang yang jelas hamba,
Terjadi peristiwa yang pada awalnya mungkin biasa,
Tetapi pada ujung akhirnya benar-benar tak terduga.
Sang hamba si penghutang, sakunya kosong hampa.
Jangankan bayar pokoknya, bunganya saja tak ada.
Dia menangis mengiba-iba, memohon pada si raja
Agar sekali lagi diberi kesempatan guna berusaha.
Raja tergerak hatinya, belas kasihan dan penuh iba,
Akhirnya tak hanya memberi kesempatan si hamba
Guna bebas berusaha tapi benar-benar ria merdeka.
Bunga dan pokoknya oleh raja dihapus begitu saja,
Padahal nilainya, dengan kurs yang kian menggila,
Pastilah hampir mencapai sembilan digit angkanya.
Sang hamba tentu saja ria gembira tak terkira-kira,
Beban berat di dada berubah seringan bulu angsa.
Wajah semringah, bibir merekah, lalu sembah puja
Setelah dihaturkan berulang kali di depan sang raja,
Mengiringi langkah ringannya keluar dari balai istana.
Raja yang pemurah, hamba yang bersuka, itu intinya.
Tetapi apa yang terjadi kemudian tepat di luar sana?
Benar-benar dahsyat luar biasa, beginilah jika hamba
Mengubah lagak dan gaya sebagai sang penguasa.
Berjumpa dengan sesama yang berhutang pada ia
Tidak terlalu besar jumlahnya, digit empat atau lima
Tetapi dengan gaya penguasa nan penuh angkara,
Baju dipegang, mata murka, dan gertak membahana,
Hai … ayo bayar semua, sudah lama menunggaknya.
Sesama yang juga hamba, merengek minta ditunda,
Tetapi karena sudah berubah jadi penguasa angkara,
Mana ada kata tunda, lunasi sekarang atau penjara.
Tetapi dengan kocek kosong hampa bagaimana bisa?
Permohonan penuh iba terus dilontar mohon maafnya.
Tetapi jawab yang diterima semakin memilukan dada.
Istri anak kan masih ada, mengapa tak itu dijual saja?
Mereka memang menjadi budak, tetapi itu resikonya.
Benar-benar si raja tega, tak ada ampunan tersedia.
Hamba tak berdaya terus ditekan hamba penguasa,
Cucuran bening air mata, rintihan pedih jiwa sukma,
Tatapan cemas tanda tak berdaya, sirna begitu saja.
Bahkan bekas-bekasnya tak ada pada sang durjana.
Bagaimana bisa ia yang baru saja menerima karunia
Seluas samudera, diminta satu tempayan kecil tirta
Tak hanya menolak malah semakin berkobar murka?
Yah begini jika status hamba, lagak gaya penguasa.
Lalu apa yang terjadi berikutnya kala berita angkara
Sampai ke telinga raja? Amarah murka getar istana.
Si hamba jahat yang asyik berlagak bak penguasa,
Ditangkap, dimurka, lalu ya dijebloskan ke penjara.
Kau yang tidak tahu terima kasih tetap ada di sana
Sampai semua hutangmu padaku lunas tak bersisa.
Kertak gigi, tangis pedih, sesal pun tidak ada guna.
Inilah jika status hamba tetapi lagak gaya penguasa.
Kejam tak terkira-kira, arogannya cetar membahana
Membuat semua menggeleng tanda tidak percaya.
Memang Putra mulia guna besarkan hati muridNya
Pernah bersabda … Kamu tidak lagi disebut hamba
Sebab hamba tak tahu apa yang diperbuat tuannya.
Aku sebut kalian sahabat, karena semua dari Bapa
Telah kusampaikan serta kuberitahukan tanpa sisa.
Sahabat memang luar biasa karena seperti setara,
Tetapi tetap saja, walau hati sangat riang gembira,
Karena boleh menjadi sahabat si penyelamat dunia,
Kita semua adalah sahabat yang berstatus hamba,
Karena hanya dengan setia berstatus seperti semula
Walau sebenarnya telah bebas merdeka karena Dia,
Peluang menangkan banyak hati dan jiwa … terbuka.
Dr. Tri Budhi Sastrio

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *