Press "Enter" to skip to content

Karakter Membaca Puisi

Sebagaimana Mus Mulyadi dipaksakan menyanyikan lagu pop ketika di Favoriete Grup tertolong dengan kawan-kawannya seband itu. Sempat muncul hitnya yang menarik, tetapi Mus Mulyadi tak dapat mengikuti perkembangan anak-anak band kala itu, sementara Koes Bersaudara yang yang berkiblat ke The Batles melaju pesat. Mus Mulyadi yang berkarakter suara khas justru diterima di hati masyarakat penggemar keroncong. Jadilah The Favoriete ditinggalkan Mus Mulyadi.
Disisi lain Edy Silitonga adalah bukan asli orang suku Jawa tetapi justru beken di lagu-lagu Jawa. Sebuah karakter suara yang justru berlawanan dengan dialeknya salah satu marga di Sumatera.
Lalu Gito Rolies ngepas di musik rock, dan Hety Koes Endang yg serba bisa itu tak bisa diterima di masyarakat pecinta dangdut.


Adalah karakter suara seseorang yang merupakan bawaan dan tak bisa dirubah dipaksakan. Tentu WS Rendra tak bisa seperti Remmy Silado atau Aloysius Slamet Widodo dalam membaca puisi glayengan. Dan Toto St Radik tak bisa membaca puisi keras seperti Sosiawan Leak atau Zaeni Boli.
Kembali dalam karakter suara khas seseorang itu lama kelamaan menemukan tepatnya membaca jenis puisi apa yg ‘ngepas sehingga kekhasannya itu menjadi ciri dan diakui masyarakat.
Sebagaimana mencipta puisi, pembaca puisi juga memiliki proses tersendiri. Tetapi kita juga memiliki pelakon baca puisi yang bisa membacakan puisi jenis apa saja, tentang patriotik, kegetiran, kritik, glayengan atau tentang cinta.
Jadi baca puisi pun memiliki beda bila karakter suara pembacanya pas dengan jenis puisi yang dibaca.
Tetapi juga membaca puisi adalah apresiasi yang tinggi terhadap penciptaan syair puisi dan penyairnya, apa pun gayanya adalah karakternya. Di pihak pemirsa, tergantung bagaimana apresiasi evaluasinya. Kita hanyalah penonton yg suka keindahan (rg bagus Warsono)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *