Press "Enter" to skip to content

Cerita Anik Trimani Astuti dengan puisi panjangnya

Cerita Anik Trimani Astuti dengan puisi panjangnya tampak runtut bercerita. Agak transparan namun tampak berani. Bait-baitnya bercerita dengan lanjutan ceritera di bait selanjutnmya. Bapak Pengais sampah bercerita tentang fenomena pengais sampah (pem ulung) yang tampak kotor itu sebetulnya lebih mulia dari yang terduga.
berikut puisi Anik Trimani Astuti.
Bapak Pengais Sampah
Sungguh kasihan bapak pengais sampah
Di balik topi, raut muka tampak resah
Entah apa yang tersimpan dalam dada hingga gundah
Dari balik daun-daun taman kota
Ku-amati dia yang tanpa senyum apalagi tawa
Bapak … Bapak ….
Engkau mengingatkanku akan bapakku
Yang mungkin jua seusiamu
Ku-amati engkau lebih dekat
Mengais sampah menaruh di wadah
Kantong kresek besar yang engkau bawa
Seolah tak kuat bahu mungilmu memanggulnya
Kuikuti engkau
Ku-amati dari beberapa meter tempatmu berjalan
Aku ingin tahu dimana rumahmu
Dengan siapa engkau tinggal
Ingin kuberbagi cerita tentang masa kecil yang penuh tawa, dahulu …
Sialan! Setelah jalan belokan ada motor yang menghalangiku tuk berjalan
Hilang sudah bapak pengais sampah dari pandangan
Namun, sungguh mujur
Dibalik semak belakang tempatku berdiri
Terdengar suara daun-daun tergerakkan
Aku pikir kucing atau anjing
Ahh … Betapa kagetnya aku
Ternyata bapak pengais sampah yang ada disitu
Sedang apa, pikirku?
Ku-amati dari dekat
Dia membuka pakaiannya
Mau apa si bapak?
Kenapa berpornoaksi disini?
Untung aku laki-laki
Jika perempuan sudah zina mata melihat si bapak telanjang terbuka
Aku hanya bisa melongok melihat si bapak melepas pakaian yang dia pakai ketika mengais sampah di taman kota tadi
Dan lalu berganti baju borju yang buat badan si bapak tadi tampak layu sekarang tampak sesuatu … Asu! Dalam batinku, “Gue kalah saing, Man!”
Si bapak lanjutkan jalan
Tinggalkan sampah di kebun dan melangkah selayak bos-bos metropolitan
Kuikuti lagi bapak pengais sampah sampai gang perumahan elite
Tampak beberapa orang menyapa penuh hormat
Hingga dia berhenti di blok H nomor 10
Aku pun berhenti berjalan dan hanya sanggup melongo ketika melihat si bapak pengais sampah mengambil kunci dari balik kantong celananya lalu membuka pintu dengan senyum ceria
Rumah yang megah dengan mobil mewah terparkir di depan rumahnya dengan gagah
Bapak pengais sampah yang tadi aku pikir lemah dan ingin aku berbagi cerita masa kecil, serta sedikit berbagi rezeki
Kini aku terpongah …
Hanya bisa terucap “Asu” dari mulut biruku
Yang kupikir lemah ternyata lebih kuat daripada aku
Yang kupikir miskin ternyata aku yang lebih miskin daripada dia
Ha ha ha ha….
Dunia memang selayak panggung sandiwara
Hanya bisa berkata dalam diri
Kalau aku tetap jadi “Asu” yang seolah parlente dengan segala kegengsian diri
Apa jadinya aku?
Sedang “Asu-Asu” di luar sana begitu gesit pula cerdas tak pikir malu
Di sinilah aku mendapat pelajaran yang benar-benar “Asu”
Sragen, 10 Januari 2021

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *