Press "Enter" to skip to content

Apa yang dilukiskan oleh Penyair Bali Dedari Rsia

Apa Bedanya! berteriak atau menggerutu inilah bahasa Indonesia. Kata ini juga bermakna pada sebaliknya berterus terang atau cukup dalam hati. Apa yang dilukiskan olh Penyair Bali Dedari Rsia sama halnya dengan penyair sebelumnya Wawan Hamzah Arfan sehingga tak sadar menyebut “asu!” Sebetulnya ukuran manusia Indonesia dalam berperasaan itu hampir sama karena dalam sejarahnya melampai peristiwa yang sama. Jika ada orang berteriak “Turunkan harga BBM !” sebetulnya yang diam juga ikut merasakan penderitaan yang menyuarakan. Kadarnya dibedakan dengan tingkat kesabaran.
Dedari Rsia termasuk penyair yang sabar sebagaimana seorang dokter yang telaten menghadapi berbagai polah si sakit. Dalam bicara puisi tentu saja pilihan itu memiliki relevansi si penyairnya,
Suguhan yang berbeda merupakan warna tersendiri dalam antologi Asu. Mari kita perhatikan puisinya: Ya sudah , Asu dahlah ….
SahadewaSahadewa
Asu dahlah
Aku tak mau berdebat
Dengan mereka yang bilang
Bumi itu datar
Dan cinta hanya milik
Para remaja hijau.
Asu dahlah
Aku tak mau marah
Pada mereka yang buang sampah
Semau mereka sesuka mereka
Tapi tak pernah membuang
Kenangan sang mantan.
Asu dahlah
Aku tak mau pulang
Ke rumah yang terkunci
Dan tak pernah memberi kebebasan
Sementara anak anak
Meneriakkan pemberontakan
Diam-diam.
Asu dahlah
Aku tak mau memaki
Yang tak aku sukai
Yang tak pernah pakai otak
Apalagi pakai hati
Aku hanya bisa berbisik
Asu……
Kupang , 2021

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *