Press "Enter" to skip to content

Puisi-Puisi Tadarus Puisi V , Ramadhan 1442 H/2021 No. 116-120

  1. Wanto Tirta

Dzikir di Tengah Pandemi

Dahaga cinta dzikir puja puji
Lantun doa jurus lurus
Mulut tertutup masker tak sebab surut
Getar jiwa antar kuat kembang tujuh warna
Dalam jalinan syahadattain gema shalawat
Berpendar serbak di langit emas lailatul qodar

Pandemi bukan halangan
Ujung alif tegar ketuk pintu surga
Mengunduh rahmat maghfirahmu
Tak gentar kugelar sajadah jiwa
Tempat sujud leleh air mata

Lintasan waktu teror corona
Bergelantungan di menara masjid dan mushola
Sendi-sendi kerapatan jamaah direntang jarak
Nyaris porak poranda

Menguatkan jemari tangan
Memilah kata sebut namaMu
Silih berganti batu-batu tasbih
Urut membilang keagungan
Menyisih iblis dan setan
Jiwaku optimis bergerak lawan pandemi

KekuasaanMu tonggak pondasi dzikir
Teduh rimbun ayun tujuMu

02052021
Saur

Dini hari dingin sepi di sela butiran nasi
Tersaji di meja makan terselip cinta Rasul

Dari ajaran sunnahMu
Lautan berkah dihamparkan
Makan saur ditunaikan
Cinta mengalir di tiap suap

Aroma embun menggugah pagi
Bergegas waktu lupakan mimpi
Siapkan hati terima seruan illahi
Niat puasa sepenuh hari

Selagi waktu masih luang
Dzikir dan doa dilafalkan
Bersih diri ikhlaskan hati
Imsak datang berhenti makan
Ibadah dipersembahkan

Kokok ayam bersautan
Adzan subuh kumandang
Sujud padaMu sepenuh jiwa raga

Masjid benderang lengang
Dihadang covid-19
Orang-orang gamang
Rindu pencerahan Tuhan

Kau berjanji kelak menjemputku di syurga

01052021

Wanto Tirta, Lahir dan hidup di lingkungan pedesaan. Menulis puisi, guritan, parikan dan membacakannya di berbagai kesempatan. Bermain teater dan ketoprak. Bergiat di Komunitas Orang Pinggiran Indonesia (KOPI), Paguyuban Ketoprak Kusuma Laras. Mendapat penghargaan Gatra Budaya Bidang Sastra dari Pemkab. Banyumas (2015), Nomine Penghargaan Prasidatama kategori Tokoh Penggiat Bahasa dan Sastra Jawa, Balai Bahasa Jawa Tengah (2017). Puisi-puisinya termaktub dalam puluhan buku antologi bersama. Tinggal di Banyumas.

  1. Barokah Nawawi

Di Depan Makam Kiyai Haji Zarkasi

Subuh ini aku hadir di pelataran rumahmu
Mengharap tetesan embun yang barangkali bisa mengurangi kesedihanku
Kiai, anakku kini telah pergi
Tertimpa bencana Malang tempo hari.

Ramadhan tahun lalu dia tak bisa pulang lantaran corona
Dan kini terlebih lagi lantaran telah pulang untuk selamanya
Tanpa sempat mengucap maaf dan pesan.

Pilu terasa makin perih di hati
Kenapalah kami rakyat kecil terus ditimpa petaka
Corona belum juga sirna
Dan bencana alam kembali membuat porak poranda
Menjepit bumi yang sudah letih tertatih.

Rasanya dosa kami rakyat kecil tak seberapa
Dibandingkan dosa pemimpin dan penguasa kami
Yang tanpa malu terus melahap dana bantuan untuk kami
Dan mengkriminilisasi para ulama yang menjadi panutan kami
Tapi kenapakah kami rakyat kecil tak berdaya
Yang selalu menjadi sasaran utama?

Lirih kudengar yasin dan tahlil sahdu mengalir
Dari para peziarah yang hadir
Serasa sentuhan dingin menyentuh kalbu
Jangan hanya salahkan orang tapi ingatlah masa lalumu
Adakah dzikir dari gurumu masih terus kau wirid kan
Dengan sepenuh ruh dan jiwamu.
Ingatlah Allah tak pernah salah memberikan pertanda
Hanya manusia yang sering salah mengartikannya.
Pakem Gebang, April 2021

Barokah, lahir di Pacitan 18 Agustus 1954.
Menulis sejak remaja, kumpulan puisi tunggalnya Bunga Bunga Semak, diterbitkan Pustaka Haikuku Bandung 2018.
Antologi haiku Pancaran Hati, diterbitkan Pustaka Haikuku 2019.
Setia ikut antologi puisi Ramadhan di Group Lumbung Puisi sejak 2018.
Barokah adalah pensiunan PT Telkom, dan domisili terakhir di Pakem, Gebang, Purworejo.

118.I Made Suantha

Elegi Yang Kucatat Sebagai Obituari Sunyi

/1/
Duka yang ating dari segala penjuru. Duka yang pergi
Ntah lewat pintu yang mana.
Duka itu tarikan nafas. Kadang terantuk serupa batuk
Seperti hujan menangis
Dengan airmatanya yang dingin.
Lalu bianglala akan menyempurnakannya menjadi ceria
Berbagai warna. Namun bayangan akan tetap
Hitam di sekitar cahaya berwarna!

Duka itu kilau matahari usai hujan
Bagi warna yang menetes dari mata air
Dan mengental di gurat telapak tangan
Yang menumbuhkan demam yang menahun!

/2/
Duka. Saat aku tersesat di pelintasan yang lurus menuju
ke rumahMu. Rumah sunyi
di tengah terbang kupukupu merabas hujan
Merawat hutan dalam kuyub tubuhnya
Dengan kepakkannya yang dingin
Mencipta ranting dan bungabunga pada pohonpohon
Yang menjaganya untuk beranakpinak
Seumur hidupnya melunasi nasib
Obituari sunyi. Duka sejati. Duka serupa hujan
Yang meleleh di terik panas
Dan menghanyutkannya jauh
Kekedalaman sengal nafasmu!

/3/
Duka. Membaca tanah air dengan mata berair
Sunyi. Jejak pulang untuk menjadi abadi
Duka. Perih itu ditumbuhi oleh lukaluka
Yang menganga
Serupa sebuah hutan yang hidup dijiwaku
Tanpa sebatang pohon dan margasatwa.
Duka sunyi. Waktu yang tergelincir dari detak ke detak jam!

Abadi itu duka yang tumbuh sebagai kenangan
Terlunta berlayar di udara yang mencair
Sekejap saja kupandang
Seumur hidup setia kuikhlaskan!

Sukawati, Gianyar, 05.2021

119.Sutarso (Osratus)

Protes Bangun Tidur , Ketika Syukurku Jalan Mundur

“Syukurku patah tulang
ditubruk motor bodong
remnya blong
dari belakang
di tikungan hati
banyak lubang
tampak lurus dan mulus
tapi konsentrasi
tidak fokus
mau ditusuk jarum infus?
Dia ingin kau datang
bukan dengan sekeranjang
uang
atau segudang jipang
kacang, diriku
Dia ingin kau datang
dengan hati lapang
untuk memapahnya
langkahkan kaki ke depan
agar kata ‘lupa’
tidak jadi jurus berbisa
yang membuat rasa
‘senantiasa
diuntung’ oleh-Nya,
binasa.”
Sorong, 10 Mei 2021

120.Aslam Kussantyo

Doa Persembahan

dan
bila waktu menjelang
kan kubawa cintaku
pada-Mu
memeluk rembulan
melintasi bintang-bintang

kan kulepas segala benci
suka cita dan dendam
dari setiap pengembaraan
bersama jasad di pekuburan

satu harapanku
Tuhan seru sekalian alam
membuka pintu perjalanan
dalam keridaan
bagi diri papa ini

aamin
Kendal, 3.10.2009

Aslam Kussantyo

Tafakur 2

berlaksa purnama kutancapkan belati
pada kedalaman jantung hingga ulu hati
lalu kubiarkan segala mengalir
dalam deras hujan dan angin mendesir

kunikmati gelegak darah penuh amarah
dalam lelap, lupa diri dan sumpah serapah
denting nafsu dan keinginan meruak
dan puja puji dunia pun merebak

dua pertiga perjalanan telah kususuri
kesiur jarak mengantar pergantian hari
tiba-tiba burung malam mengejar garis fajar
kumandang adzan bagai bias suara samar

lalu bayangan itu berkelebat di cakrawala
menelisik setiap jangat nadi menjadi luka
menyertai dzikir pohonan dan rumputan
menyertai dzikir jalanan dan pegunungan

lalu siapa berteriak di atas bentang sajadah
sementara kudengar rintih di antara rakaat
allahumma innaka ‘afuwwun
tuhibbul ‘afwa fa’ fu’anni
Kendal, Ramadan 1442

Aslam Kussatyo , lahir di Yogayakarta dan sekarang tinggal di Kendal, Jawa Tengah. Saat ini berprofesi sebagai guru di MAN Kendal. Aktif menulis karya sastra sejak tahun 80-an. Beberapa karyanya sempat dimuat di beberapa media massa Jawa Tengah dan diterbitkan dalam antologi Penyair Jawa Tengah. Sempat berhenti dari dunia tulis menulis karena asyik menekuni profesinya sambil membimbing teater. Mulai 2021 ini berniat mengakhiri masa ‘pingsan’-nya. Di tahun ini pula beberapa puisinya sempat masuk dalam antologi bersama Omah dan Sang Acarya

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *